Minggu, 18 September 2011

Kasih Seorang Ayah



Sejak kuliah, radio merupakan salah satu teman yang selalu menemani saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun santai. Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan acara-acara yang disajikan oleh berbagai macam stasiun radio. Suatu malam, di sebuah stasiun radio, sedang berlangsung acara dimana orang-orang berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang semula tercurah pada tugas-tugas kantor beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya
Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Sejak kecil ia sering dimarahi oleh ayahnya.

Di mata sang ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya benar. Setiap hari ia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan sang ayah yang ia dapatkan. Pada waktu ia berumur 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya.
Hal ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Sosok ayah yang melekat dalam dirinya adalah sosok yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya ia memberontak dan tak pernah satu hari pun ia lewati tanpa bertengkar dengan ayahnya.

Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun kecuali pada istrinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu
masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.

Suatu hari ketika membantu ibunya membereskan barang-barang peninggalan almarhum, ia menemukan sebuah bingkisan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis "Untuk Anakku Tersayang". Dengan hati-hati diambilnya bingkisan tersebut dan mulai
membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama ia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan ia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang ia kenali betul sebagai tulisan tangan ayahnya.
"Ya Tuhan, Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh karunia terbesar dalam hidupku.
Kumohon Ya Tuhan, Jadikan buah kasih hambaMu ini Orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu. Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang. Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya. Sekali lagi kumohon Ya Tuhan, Sertailah anakku dalam setiap langkah
yang ia tempuh. Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu Selamat ulang tahun anakku, Doa ayah selalu menyertaimu".

Meledaklah tangis sang anak usai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bingkisan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya.
Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayah memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan keras agar sang anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan sosok ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita...

Pada akhir acara, wanita itu mengingatkan para pemirsa agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita.
Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi. "Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara-saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Tuhan dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang tinggal
bagaimana kita menerima, menyerap, mengartikan dan membalas kasih sayang itu", kata wanita tersebut menutup acara pada malam hari itu

Kamis, 15 September 2011

PAPA Baca..



"...papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger" Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses, seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dibawanya pulang ke rumah, karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham.  Ketika ia sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut, Putrinya Jessica datang mendekatinya, berdiri tepat disampingnya, sambil memegang buku cerita baru. Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut, sangat menarik perhatian Jessica, "Pa liat"! Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya. Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kaca matanya, kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi "Wah,. Buku Baru ya Jes?", "Ya papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya. "Bacain Jessi dong pa" pinta Jessica lembut, "Wah papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh" sanggah budi dengan cepat. Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan  didepannya, dengan serius. Jessica bengong sejenak, namun ia belum menyerah. Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu "pa, mama bilang papa mau baca untuk jessi" Budi mulai agak kesal, "Jes papa sibuk, sekarang Jessi suruh mama baca ya" "pa, mama cibuk, terus, papa liat gambarnya lucu-lucu", "Lain kali Jessica, sana! papa lagi banyak kerjaan" Budi berusaha memusatkan  perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi, menit demi menit berlalu, Jessica menarik nafas panjang dan tetap disitu, berdiri ditempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi. "pa,.. gambarnya bagus, papa pasti suka", "J! essica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" kata Budi membentaknya dengan keras, Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis, matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya "Iya pa,. lain kali ya pa?" Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. "pa kalau papa ada waktu, papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger". Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi, Buku cerita Peri imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya. Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk!!" beberapa tetangga melaporkan dengan histeris bahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabuk yang melajukan kendaraannya dengan kencang didepan rumah Budi. Tubuh Jessica mungil  terhentak! beberapa meter, dalam keadaan yang begitu panik ambulance didatangkan secepatnya, selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih "Jessi takut pa, jessi takut ma, Jessi sayang papa mama" darah segar terus keluar dari mulutnya hingga
ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat. Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi, Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah  penyesalan. Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana,..pun tidak terpenuhi. Masih segar terbayang dalam ingatan budi tangan mungil anaknya yang memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali, ",...papa baca keras-keras ya pa, supaya Jessica bisa denger" kata-kata jessi terngiang-ngiang kembali.
Sore itu setelah segalanya telah berlalu, yang ! tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati, canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi, Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi, sampulnya sudah usang dan koyak. Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi  lembar-lembar halamannya seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil. Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras, tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras, Ia terus membacanya dengan keras-keras halaman demi halaman, dengan berlinang air mata. "Jessi dengar papa baca ya" selang beberapa kata,.. hatinya memohon,.lagi "Jessi papa mohon ampun nak" "papa sayang Jessi" Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya, tak kuasa menahan itu Budi bersujut dan menagis,..memohon satu kesempatan lagi untuk mencintai.
Seseorang yang mengasihi selalu mengalikan kesenangan dan membagi kesedihan  kita, Ia selalu memberi PERHATIAN kepada kita Karena ia Peduli kepada kita
ADAKAH "PERHATIAN TERBAIK" ITU BEGITU MAHAL BAGI MEREKA ?
BERILAH "PERHATIAN TERBAIK" WALAUPUN ITU HANYA SEKALI
Bukankah Kesempatan untuk memberi perhatian kepada orang-orang yang kita cintai itu sangat berharga ?
DO IT NOW
Berilah "PERHATIAN TERBAIK" bagi mereka yang kita cintai
LAKUKAN SEKARANG !! KARENA HANYA ADA SATU KESEMPATAN
UNTUK MEMPERHATIKAN DENGAN HATI KITA

Pesan Ayah Tentang Sahabat



Anakku,
Di awal perjalanan waktumu, di ujung lintasan hayatku, ingin kusampaikan kepadamu beberapa patah kata yang kuharapkan dapat menjadi azimat yang memberikan warna indah bagi hidupmu yang penuh keceriaan.
Senang hatiku karena engkau selalu memperhatikan kata-kataku. Hal itu membuatku semakin bergairah untuk bercerita kepadamu tentang mutiara-mutiara kehidupan yang berhasil kukumpulkan disepanjang perjalananku. Kali ini izinkanlah aku bertutur tentang arti sahabat dan persahabatan.
Anakku,
Tidak ada seekor burungpun yang dapat terbang jauh apabila ia terbang sendirian. Begitu juga tak seorangpun dapat mencapai tujuan-tujuan besar dalam hidupnya apabila ia mencoba mencapainya seorang diri, atau apabila ia tidak mempunyai sahabat-sahabat disekelilingnya. Seorang sahabat adalah seseorang yang dengannya engkau berani menjadi dirimu sendiri, yang dengannya engkau berani berkata : "Inilah Aku!"

Sungguh seorang sahabat adalah bagian penting dari hidupmu. Orang bijak mengatakan bahwa seorang sahabat adalah dorongan ketika engkau berhenti, sepatah kata ketika engkau kesepian, petunjuk jalan ketika engkau tersesat, senyuman sabar ketika engkau berduka, juga lagu gembira ketika engkau merasa bahagia. Bahkan seorang sahabat adalah seseorang yang menghentikanmu ketika engkau meluncur jatuh. Seorang
sahabat adalah orang yang siap mendengar ketika engkau ingin mengatakan sesuatu, seorang yang peduli dengan masalahmu, dan juga tempat engkau berbagi rasa!

Tentu senang hatiku jika engkau mempunyai banyak sahabat, Anakku.
Tapi yang paling kusukai dari dirimu adalah bahwa engkau senantiasa berusaha menjadikan dirimu sahabat bagi orang lain. Tahukah engkau anakku, begitu terharunya aku ketika masa kecilmu banyak kau isi dengan menjadikan dirimu sahabat bagi anak-anak disebelah rumah kita, serta sahabat bagi binatang-binatang peliharaan kita? Waktu itu aku merasa bahagia sekali karena engkau dapatkan dan kau nikmati
kedamaian dan kebahagiaan bersama sahabat-sahabatmu!
Meskipun begitu, sahabatmu yang terpenting adalah dia yang menghendaki Kebaikan dan Kebahagiaan bagimu, dimana Kebaikan adalah Kebenaran yang kita fahami dengan sejelas-jelasnya, dan Kebahagiaan Sejati adalah rasa senang yang dibangkitkan oleh hasrat yang tinggi pada Kebenaran. Dialah yang menghendaki Keselamatan bagimu di dunia dan di akhirat kelak, Anakku. Maka jadikanlah dirimu sahabat
terpenting, kalau mungkin bagi setiap orang!

Telah kulihat kebijakanmu sejak masa kecilmu Nak. Tentu tak sulit bagimu untuk memahami kata-kataku. Dan mengenai arti Persahabatan, Anakku, aku hanya ingin mengatakan bahwa Persahabatan adalah intan-berlian yang tak ternilai harganya. Tak dapat dijual, tak dapat dibeli, dan juga tak mungkin dipinjamkan, karena didalamnya
terkandung kehendak untuk saling menghormati, saling mencintai, dan saling memberi!

Sekarang marilah kujelaskan hal yang lebih mendalam. Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah SWT berfirman bahwa Dia adalah Sahabat bagi manusia yang berdzikir kepada-Nya. Berdzikir kepada Allah SWT adalah senantiasa mengingat kepada-Nya dimanapun engkau berada, senantiasa kau basahi lidahmu dengan mengucapkan Nama-Nama-Nya yang Agung,
melaksanakan semua kewajiban dan perbuatan baikmu karena Allah semata, kau hindari perbuatan yang dilarang-Nya karena Allah, dan kau sadari benar bahwa Dia selalu mengawasimu.

Jika kau lakukan semua ini, maka suatu saat akan kau rasakan di dalam hatimu, cinta yang semakin besar kepada-Nya, dan rasa cinta ini akan berwujud Kehendak yang kuat untuk mendapatkan ikatan yang kekal dengan Dia yang Maha Hidup. Maka bila kau menjadi sedemikian bersungguh-sungguh dengan tekadmu, akan kau rasakan kelak bahwa Dia membalas cintamu. Akan diperlihatkan kepadamu keajaiban-keajaiban dari cinta-Nya. Pada saat itu, pada saat cintamu mendapat respon yang baik dari-Nya, maka engkau akan berkembang sedemikian rupa sehingga sampailah engkau pada suatu keadaan dimana engkau bukan saja melakukan suatu pekerjaan "karena Allah" (li-Llah) tapi juga "dengan Allah" (bi-Llah)! Hanya engkau sendirilah yang akan memahami keadaan
itu, tak ada yang perlu engkau kuatirkan dan tak perlu lagi kau bersedih hati jika Allah SWT telah mengangkatmu ke derajat itu.

Capailah keadaan itu, Nak! Itulah yang tertinggi yang dapat dicapai oleh hamba-hamba-Nya. Itulah Kebahagiaan Sejati! Dan tak akan pernah kau capai keadaan itu kecuali Allah SWT menghendakinya. Maka berdo'alah selalu, Anakku, berdo'alah selalu, kemudian perkuatlah kesabaranmu. Sesungguhnya akan kau sadari kelak bahwa kita semua sangat bergantung kepada Allah SWT.

Masih segar dalam ingatanku, tangisanmu yang nyaring ketika engkau hadir di dunia ini. Masih segar dalam pandanganku bagaimana kau repotkan ibumu dengan rasa hausmu akan kasih sayangnya. Aduhai Anakku, tahukah engkau betapa besar cinta kami kepadamu?
Sengaja kami pilihkan sebuah nama yang indah bagimu, Nak. Semoga indah pula masa depanmu!!

Berbahagialah dengan apa yang ada pada dirimu, Nak! Apa yang dianugerahi Allah SWT kepadamu adalah apa yang terbaik bagimu!
Bersyukurlah dengan semua nikmat yang telah Ia berikan kepadamu, dan bersabarlah dengan ujian yang datang dari-Nya. Sesungguhnya Allah SWT tidak menghendaki keburukan bagi kita. Sesungguhnya Ia Maha Bijaksana. Jadikanlah dirimu manusia yang berguna, agar tidak sia-sia Allah menciptakanmu. Bersungguh-sungguhlah dalam menempuh perjalanan hidupmu, karena dengan penuh kesungguhan pula Ia telah menciptakanmu.
Milikilah sebuah cita-cita yang luhur dan mulia karena ia merupakan penggerak jiwa yang luar biasa, tonikum yang menyegarkan seluruh sel-sel tubuhmu, serta pembakar semangat yang tak habis-habisnya! Dan, dengan senantiasa memohon pertolongan-Nya, raihlah tujuan hidupmu dengan cara terhormat!

Sesungguhnya manusia yang tidak mempunyai tujuan dalam hidupnya adalah manusia yang juga tidak mempunyai masa depan, dan manusia yang menghalalkan segala cara untuk meraih harapan-harapannya adalah manusia yang menabung derita.

Ingatlah selalu bahwa Allah SWT adalah Yang Terbaik untuk dicintai (The Best to Love). Bila kau dapatkan cinta-Nya maka telah kau miliki segala-galanya, karena Dia-lah Yang Maha Kaya. Sebaliknya mereka yang kehilangan cinta-Nya adalah orang-orang yang telah kehilangan segala-galanya.

Berjuanglah dengan sepenuh hati. Jangan biarkan keragu-raguan menggerogoti akal dan jiwamu. Akhirnya, jadikanlah saat pertemuanmu dengan-Nya kelak, dengan Sahabat Yang Maha Tinggi, adalah saat terindah dalam hidupmu!!

Baiklah anakku, kucukupkan suratku sampai di sini, dengan harapan semoga engkau semakin arif, semakin bijaksana, dan semoga Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang mencintaimu selalu....!

Tips Meredakan Bad Mood


Tips Meredakan Bad Mood”
Pertengkaran dengan pasangan semalam bisa jadi terbawa hingga pagi hari bahkan mempengaruhi kerja sehari-hari. Kemacetan lalu lintas, ditambah kendaraan mogok sehingga membuyarkan banyak rencana, juga bisa mempengaruhi emosi sepanjang hari. Atasan yang menjengkelkan atau bawahan yang membandel, bisa juga membuat runyam emosi.
Ya! Banyak hal-hal yang membuat perasaan dan suasana hati menjadi tidak
enak. Seringkali kita tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Pokoknya,
hati ini terasa ingin marah, cemas, jengkel dan bermacam-macam emosi negatif
lain bercampur aduk.Kita biasanya menyebutnya sebagai "badmood". Dalam keadaan "bad mood", hasilkerja tak akan baik, salah-salah hubungan kita dengan orang lain malahbertambah buruk. Pendek kata, tak ada kebaikan yang bisa diberikan oleh "bad mood". Jadi sudah semestinya kita bisa meredakan "bad mood" yang sedangmelanda diri kita. Berikut beberapa tips yang mungkin bisa membantu kita meredakan "bad mood".

1--Sadari bahwa anda sedang mengalami badmood.
Kunci utamanya adalah menyadari bahwa anda sedang dilanda gejolak emosi.
Bila anda tahu anda sedang marah, setidaknya anda bisa menolong diri sendiri
untuk meredakan kemarahan. "Bad Mood" biasanya tidak gampang dijabarkan
dengan jelas, tetapi begitu anda mengalami suasana hati yang runyam, segera
sadari keadaan itu. Sadari juga efek dari "bad mood": mutu kerja merosot,
kehilangan customer, negoisasi gagal, dan banyak lagi yang buruk. Jadi,
cepat atasi bad mood anda sebelum mengganggu kerja anda berkepanjangan.
2--Tenangkan diri anda.
Okay, anda sudah sadar bahwa anda sedang kebakaran dalam api "bad mood".
Sekarang, tenangkan diri anda. Tarik nafas dalam-dalam berulang kali sampai
ketegangan dalam diri anda reda. Lakukan relaksasi sederhana, misal,
bernafas secara teratur sambil memejamkan mata. Atau berdoa agar anda diberi
kesabaran.
3--Selesaikan persoalan anda sesegera mungkin.

"Bad mood" biasanya disebabkan oleh adanya persoalan. Maka menyelesaikan
persoalan adalah pemecahan yang jitu. Jika anda bertengkar, segera
selesaikan, berdamailah dan saling maaf-memaafkan. Bila anda berbeda
pendapat dengan kolega atau atasan, lakukan diskusi dengan kepala dingin.
Jika acara anda berantakan, lakukan janji ulang dan susun rencana baru.
Jangan biarkan persoalan terus menggantung, itu memperpanjang penderitaan
bad mood anda.

4--Bergerak, bergerak, dan bergeraklah.
Jangan berdiam diri. Bergeraklah. Lakukan olahraga ringan. Buat diri anda
berkeringat dan lelah. Bila anda diam saja, maka "ulat-ulat" emosi akan
terus menggerogoti pikiran anda dan membuat anda terbayang-bayang hal yang
tidak-tidak. Bergerak, bergerak, dan bergeraklah.

5--Segarkan diri anda.
Intinya sama dengan bergerak, lakukan sesuatu agar diri anda segar. Minum
air putih banyak-banyak. Cuci muka dengan air segar. Makan dan minumlah
sesuatu yang alami dan segar, seperti jus jeruk. Tetapi jauhi alkohol. Ia
takkan banyak membantu, malah memperburuk saja. Jauhi gula, cokelat, makanan
yang mengenyangkan, softdrink, dan sebagainya. Ini justru membuat anda
kenyang, malas dan mengantuk. Kondisi demikian, alih-alih menjernihkan
pikiran anda, malah memperbesar "bad mood" anda saja.

6--Jauhi amarah, pikiran dan emosi negatif lain.
Marah dan emosi-emosi negatif itu menghabiskan energi. Bila anda merasa "bad
mood" sedang menyerang, kuatkan hati untuk tidak marah. Bersabarlah.
Coba pandang wajah "bad mood" anda di cermin. Tak menyenangkan bukan?

7--Bergembiralah dengan teman-teman anda.
Sebaliknya, dekati teman-teman anda yang bisa memberikan kegembiraan.
Temukan "refreshing" di sana. Tertawa dan tersenyumlah bersama mereka. Cegah
"bad mood" dengan membina hubungan yang baik dan sehat dengan teman-teman
anda. Hidup ini lebih mudah dilalui bersama mereka yang ceria ketimbang yang
murung. Jangan tenggelam dalam kesedihan.

8--Berusahalah untuk lebih menikmati hidup ini.
Ya, semua "kecelaaan" atau kekacauan itu adalah bagian dari hidup.
Terimalah itu apa adanya. Jangan berburuk sangka pada hidup ini. Pasti ada
pelajaran di balik semua kesulitan. Nikmati saja

“Maafkan Aku Ayah...”




Sewaktu usiaku belum lima tahun, aku hampir tak pernah mengenalnya. Bukan karena usiaku yang belum bisa mengenal secara detail siapapun, tapi lebih karena pria ini hampir tidak pernah kujumpai. Kecuali sesekali di hari minggu, ia seharian penuh berada di rumah dan mengajakku bermain. Namun meski sekali, aku merasa sangat senang dengan keberadaanya.
Sejak aku mulai sekolah hingga masa remaja, aku menganggap pria ini tidak lebih dari sekedar pria tempat ibu meminta uang bulanan, juga untuk keperluan sekolahku dan adik-adikku. Tidak seperti anak-anak lainnya yang
mempunyai seorang pria dewasa yang membela mereka saat berseteru dengan teman mainnya, atau setidaknya merangkul menenangkan ketika kalah berkelahi, aku tidak. Pria dewasa yang sering kujumpai di rumah itu sibuk dengan semua pekerjaannya.
Hingga aku dewasa, pria ini masih kuanggap orang asing meski sesekali ia mengajariku berbagai hal dan memberi nasihat. Sampai akhirnya, kutemukan pria ini lagi sehari, dua hari, seminggu, sebulan dan bahkan seterusnya berada di rumahku. Rambutnya sudah memutih, berdirinya tak lagi tegak, ia tak segagah dulu saat aku pertama mengenalnya, langkahnya pun mulai goyah dan lambat.
Kerut-kerut diwajahnya menggambarkan kerasnya perjuangan hidup yang telah dilaluinya. Bahkan suaranya pun terdengar parau menyelingi sakit yang sering dideritanya.Kini pikiranku jauh melayang pada sayup-sayup suara ibu, sambil menyusuiku ia memperkenalkan pria ini setiap hari, "nak, ini ayah ?" meski
aku pun belum begitu mengerti saat itu. Bahkan menurut ibu, pria ini justru yang pertama kali menyambutku ketika pertama kalinya aku melihat dunia. Cerita ibu, karena pria ini yang mengantar, menemani ibu hingga saat persalinan. Bahkan suaranyalah yang pertama kudengar dengan lembut menerobos kedua telingaku dengan lantunan adzan dan iqomat hingga aku tetap mengenali suara panggilan Allah itu hingga kini.
Dari ibu juga aku mengetahui, bahwa ia rela kehilangan kesempatan untuk mencurahkan kasih sayang dan cintanya kepadaku demi bekerja seharian penuh sejak dinginnya shubuh masih menusuk kesunyian hari saat aku masih tertidur hingga malam yang larut ketika akupun sudah terlelap. Ia tahu resiko yang harus diterimanya kelak, bahwa anak-anaknya tak akan mengenalnya, tak akan lebih mencintainya seperti mereka mencintai ibu mereka, tak akan menghormatinya karena merasa asing dan tidak akan memprioritaskan perintahnya karena hampir tak pernah dekat. Tapi kini kutahu, ia lakukan semua demi aku, anaknya. Ibu juga pernah bercerita, pria ini selelah apapun ia tetap tersenyum dan tak pernah menolak saat aku mengajaknya bermain dan terus bermain. Ia tak pernah menghiraukan penat, peluh dan lelahnya sepulang
kerja demi membuat aku tetap senang. Ia tak mengeluh harus bangun berkali-kali di malam hari bergantian dengan ibu untuk sekedar menggantikan popok pipisku atau membuatkanku sebotol susu. Dan itu berlangsung terus selama beberapa tahun, yang untuk semua itu ia ikhlas menggadaikan rasa kantuknya. Kusadari kini, semua dilakukannya untukku. Untuk sebuah cinta yang tak pernah ia harapkan balasannya. Seperti halnya ibu, ia juga rela ketika harus terus menggunakan kemeja usangnya untuk bekerja, atau celananya yang beberapa kali ditambal. Kata ayah seperti
diceritakan ibu, uangnya lebih baik untuk membelikan aku pakaian, susu dan makanan terbaik agar aku tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas.
Terima kasih Ayah, kutahu engkau juga tak kalah cintanya kepadaku dengan kecupan hangatmu saat hendak berangkat kerja dan juga sepulangnya ketika aku terlelap. Meski tak banyak waktu yang kau berikan untuk kita bersama, namun sedetik keberadaanmu telah mengajarkan aku bagaimana menjadi anak yang
tegar, tidak cengeng dan mandiri. Kerut diwajahmu, memberi aku contoh bagaimana menghadapi kenyataan hidup yang penuh tantangan.Maafkan aku Ayah, aku tak pernah membayangkan sedemikian besar cinta dan pengorbananmu kepadaku. Ayah tak pernah mengeluh meski cinta dan pengorbanan itu sering terbalaskan dengan bantahan dan sikap kurang hormatku. Meski kasih sayang yang kau berikan hanya berbuah penilaian salahku tentangmu.
Jangan menangis Ayah, meski kini kau nampak tua dan lelah, bahu dan punggungmu yang tak sekekar dulu lagi, bahkan nafasmu yang mulai tersengal.
Ingin aku bisikkan kepadamu, "Aku mencintaimu"